Halo!

Suling Emas Chapter 166

Memuat...

"Orang muda, coba kau bacakan sajak ketiga dari dalam kitab itu!"

Bu Song sudah sering membaca kitab pemberian Ciu Gwan Liong, maka tanpa membaca pun ia sudah hafal. Maka ia lalu membacakan kalimat dalam sajak ketiga.

Matahari bersinar miring ditengah hari.

Sesuatu mati begitu lahir.

Selatan tiada batas dan ada ujungnya.

Aku pergi ke selatan hari ini dan tiba disana kemarin!

Cintalah semua benda dengan sama.

Alam adalah satu.

Kitab kecil kuno itu memang mengandung sajak-sajak yang amat aneh dan sukar dimengerti. Sajak ketiga yang dibacakan oleh Bu Song itu adalah sajak dari seorang menteri Kerajaan Wei bernama Hui Su (370-319 BC), seorang tokoh Mohism, yaitu pengikut ajaran-ajaran Mo Cu. Keistimewaan Mohism adalah kata-kata yang saling bertentangan atau saling berlawanan. Begitu mendengar Bu Song membacakan sajak itu, orang disebelah dalam gua berseru girang,

"Tepat...! Orang muda, engkau dapat sampai disini tentu memiliki kepandaian, siapakah Gurumu?"

"Suhu bernama Kim-mo Taisu."

"Wah, pantas... pantas saja adikku mempercayaimu. Kau masuklah dan suling ini tentu akan kuberikan kepadamu. Akan tetapi engkau harus bisa menghalau perintang yang menyeramkan itu lebih dulu. Ingin kulihat apakah kepercayaan Gwan Liong kepadamu tidak sia-sia! Masuklah, orang muda, akan tetapi awas terhadap binatang-binatang itu. mereka amat buas!"

Bu Song melangkah masuk. Karena orang didalam gua sudah memberi peringatan, ia bersikap hati-hati sekali, melangkah perlahan-lahan dan mata serta telinganya siap. Tiba-tiba ia mendengar desis keras dan hidungnya mencium bau yang amis.

Baiknya cahaya matahari masih cukup terang memasuki gua itu sehingga ia dapat melihat bayangan hitam merayap datang didepannya dan ternyata yang merayap itu adalah seekor binatang seperti buaya yang luar biasa! Kulitnya tebal, matanya besar bersinar hijau, lidahnya panjang bercabang seperti lidah ular dan dari mulutnya yang mendesis-desis itu keluar uap putih yang berbau amis. Suara mendesis makin hebat dan ternyata bukan seekor saja binatang itu, melainkan ada empat ekor! Mereka datang dari depan, kanan dan kiri dengan sikap mengancam. Bu Song berdiri memasang kuda-kuda dan begitu melihat binatang yang paling dekat dengannya menyergap dengan kedua kaki depan terangkat dan mulut terbuka lebar, Bu Song segera mengerahkan tenaga ketangan kanan dan ia memukul dengan jari terbuka.

"Desss!!"

Binatang seperti buaya itu terlempar, mengeluarkan suara keras akan tetapi lalu merayap pergi, gerakannya lemah dan limbung. Lega hati Bu Song. Kiranya binatang-binatang ini lebih menakutkan daripada membahayakan. Ia tidak menanti sampai binatang-binatang itu menyerbunya, melainkan mendahului menerjang maju dan dengan gerakan cepat sekali kedua tangannya membagi-bagi pukulan yang diarahkan kepada tiga ekor binatang yang lain. Terdengar suara keras dan binatang-binatang itu menjerit-jerit lalu lari kacau-balau, bersembunyi dibalik batu karang yang gelap dikanan kiri gua.

"Bagus! Kau tidak kecewa menjadi murid Kim-mo Taisu dan kepercayaan adikku Gwan Liong. Tunggulah, orang muda. Setelah empat ekor binatang buruk itu pergi aku dapat keluar sendiri!"

Suara orang itu terdengar girang dan tak lama kemudian muncullah sesosok bayangan hitam dari dalam gelap. Ketika tiba ditempat yang diterangi sinar matahari dari luar, Bu Song melihat seorang laki-laki tua tinggi kurus bermuka pucat. Tubuh dan mukanya menyatakan bahwa kakek ini tidak sehat, atau bahkan sakit, akan tetapi ketika ia berjalan keluar, langkahnya dan sikapnya membayangkan keangkuhan seorang terpelajar tinggi. Ditangan kanannya terdapat sebatang suling yang berkilauan ketika terkena sinar matahari, sebatang suling berwarna kuning. Tidak salah lagi, itulah suling emas, pikir Bu Song dengan hati penuh ketegangan. Kakek itu pun memandang Bu Song penuh perhatian. Agaknya ia puas melihat Bu Song.

"Mari kita keluar. Kau harus cepat-cepat mempelajari cara meniup suling ini dan menyesuaikan bunyinya dengan sajak-sajak didalam kitab. Hayo cepat, jangan samapi ia keburu datang!"

Tergesa-gesa kakek ini mengajak Bu Song keluar dari dalam gua.

"Apakah Paman maksudkan Kong Lo Sengjin?"

Kakek itu berhenti didepan gua dan memandang. Matanya yang tajam penuh selidik dan membayangkan kecurigaan.

"Kau mengenal dia?"

"Tentu saja saya mengenal Kong Lo Sengjin, Paman. Isteri Suhu adalah keponakan Kong Lo Seng Jin, akan tetapi anehnya, kakek yang sakti tapi kejam itu menyuruh bunuh keponakannya sendiri untuk menipu Suhu."

Kakek yang bukan lain adalah sastrawan Ciu Bun yang selama bertahun-tahun dicari-cari oleh tokoh-tokoh kang-ouw itu tercengang.

"Apa...? Kim-mo Taisu menjadi mantu keponakan Couw Pa Ong? Sungguh aneh! Dan tua bangka itu menyuruh bunuh keponakannya sendiri? Orang muda, eh... siapa namamu tadi? Bu Song? Bu Song, kau ceritakan semua kepadaku!"

Mereka pergi kebelakang tumpukan karang tak jauh dari gua. Disitu Kakek Ciu Bun duduk dan Bu Song segera menceritakan keadaan suhunya dan Kong Lo Sengjin menipu Kim-mo Taisu bahwa pembunuhnya adalah musuh-musuh Kong Lo Sengjin. Kemudian betapa secara tidak sengaja ia mendengar percakapan antara Kong Lo Sengjin dan tokoh-tokoh Hui-to-pang maka ia tahu akan rahasia itu. Kemudian ia bercerita juga sedikit tentang keadaan dirinya, bahwa selain murid Kim-mo Taisu, dia pun bekas calon mantunya dan betapa calon isterinya puteri Kim-mo Taisu tewas di dalam jurang. Mendengar penuturan itu, Ciu Bun bengong lalu memaki gemas,

"Tua bangka itu benar-benar telah menyeleweng jauh daripada kebenaran! Untung bukan dia yang mendapatkan kitab ditangan Gwan Liong. Kau tadi bilang Gwan Liong sudah meninggal, bagaimana kau tahu?"

"Bukan hanya tahu, Paman. Bahkan saya yang mengubur jenazahnya."

Kembali Bu Song bercerita tentang nasib Ciu Gwan Liong yang buruk dan betapa kakek sastrawan itu agaknya membunuh diri agar jangan sampai terjatuh ketangan Kong Lo Sengjin. Ciu Bun membanting-banting kaki kanannya.

"Couw Pa Ong, kau benar-benar patut dimaki dan dikutuk!"

Hening sejenak, kemudian Ciu Bun berkata.

"Nah, kau ambil kitab itu, kau baca sajaknya dan aku akan meniup suling itu disesuaikan dengan isi sajak. Kau tahu, setiap huruf itu mengandung bunyi tertentu sesuai dengan maknanya, dan suara suling ini harus ditiup sesuai dengan bunyi huruf sehingga merupakan lagu tertentu sesuai dengan bunyi huruf sehingga merupakan lagu tertentu sesuai dengan bunyi sajak. Kami yaitu aku dan adikku yang telah meninggal adalah sastrawan-sastrawan yang mengutama kan keindahan seni, maka pemberian anugerah dari Bu Kek Siansu berupa dua buah benda berharga ini bagi kami semata-mata hanyalah mengandung keindahan yang luar biasa. Keindahan seni sastera diselaraskan dengan seni suara. Menurut Bu Kek Siansu, kalau bunyi sajak dan suara suling ini sudah dapat diselaraskan seperti mestinya, maka akan mendatangkan hikmat luar biasa, menenangkan batin menjernihkan pikiran dan menghalau segala macam pikiran jahat, menindih nafsu dan membawa orang ketingkat batin yang lebih tinggi. Akan tetapi, selain itu, aku yakin bahwa dua benda ini pun mengandung sesuatu yang amat hebat bagi dunia persilatan, karena buktinya tokoh-tokoh kang-ouw dari segala penjuru mencari-cari dan mengejar-ngejar kami. Nah, kau bacakan sajak yang mana saja, biar kutimpali dengan suling ini!"

Bu Song mendengar penjelasan itu merasa betapa sulitnya mempelajari ilmu menyesuaikan bunyi huruf dan bunyi suling, namun ia menaruh perhatian besar dan segera ia membaca lambat-lambat sederet sajak. Kakek Ciu Bun sudah meniup sulingnya dan terdengarlah bunyi suling mengalun aneh, akan tetapi lebih aneh lagi bagi Bu Song, suara suling itu demikian enak dan cocok dengan suaranya yang membaca huruf-huruf secara lambat. Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan suara aneh lucu.

"Ngieeehhh... ngieeehhh!"

Seketika Ciu Bun menghentikan tiupan sulingnya. Karena ini, Bu Song juga menghentikan bacaannya dan menoleh kearah suara. Kiranya didepan gua tadi kini tampak sekor kuda yang ditunggangi oleh dua orang. Dua orang laki-laki aneh sekali karena mereka itu menunggang kuda dengan menghadap kebelakang dan laki-laki yang dibelakang memegang ekor kuda sambil mengeluarkan suara "ngieeeeh-ngieeeeh"

Tadi.

Dua orang laki-laki ini benar-benar luar biasa sekali. Yang seorang bertubuh tinggi kurus seperti rangka terbungkus kulit berkepala gundul dan bertelanjang baju, hanya memakai celana sebatas lutut dan bertelanjang kaki. Orang kedua yang memegangi ekor kuda tidak kalah anehnya. Tubuhnya gemuk sekali, punggungnya berpunuk mulutnya besar dan dan kepalanya juga gundul bertelanjang baju dan bercelana seperti pertama.

"Kiu-ji dan Ciu-ji (Anak Kiu dan Anak Ciu)! Berani kalian mengganggu aku selagi meniup suling? Awas, kuadukan nanti kepada Ong-ya!"

Muka kedua orang gundul itu menjadi ketakutan, Si Gendut lalu menggerak-gerakkan seekor kuda agar kudanya berlari cepat.

"Tidak... tidak... tidak...!"

Mereka berkata ketakutan. Benar-benar pemandangan yang luar biasa sekali. Tak dapat Bu Song menahan keinginan hatinya.

"Paman, siapakah mereka tadi?"

"Mereka itu dua orang pelayan dan juga murid Couw Pa Ong. Gigitan-gigitan beracun dari binatang-binatang berbisa membuat mereka tidak waras otaknya. Akan tetapi mereka itu hebat kepandaiannya, mewarisi ilmunya Couw Pa Ong. Memang tua bangka itu aneh sekali, menurunkan ilmunya kepada dua orang gila macam itu."

"Jadi Kong Lo Sengjin tinggal di pulau ini?"

Bu Song bertanya kaget karena hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya. Ciu Bun mengangguk.

"Tentu saja tinggal disini! dengarlah. Couw Pa Ong adalah sahabat baikku semenjak dahulu. Kami berdua orang-orang yang setia kepada Kerajaan Tang. Dia banyak belajar ilmu kesusateraan dari aku yang dulu menjabat kedudukan guru sastera di kota raja! Atas ajakannyalah aku tinggal disini untuk menyembunyikan diri dari orang-orang jahat yang hendak merampas suling ini. Mula-mula Couw Pa Ong memang tetap menjadi sahabat baikku. Akan tetapi agaknya kegilaan kedua orang murid atau pelayannya itu menular kepadanya. Sikapnya mulai berubah dan dia mulai membujuk-bujukku untuk

menurunkan rahasia suling dan kitab pemberian Bu Kek Siansu kepadanya! Akan tetapi setelah kutahu bahwa pikiran dan wataknya telah berubah, aku selalu mengatakan bahwa suling ini tidak ada artinya baginya, hanya untuk ditiup melagu menghibur diri. Ia penasaran lalu memasukkan aku kedalam gua itu, dijaga oleh binatang-binatang liar. Tentu saja aku tidak berani keluar dan yang berani memasuki gua hanyalah dua orang bocah edan tadi yang mengantar makanan setiap hari kepadaku. Kau tahu bahwa Couw Pa Ong tentu hendak mencari dan menangkap adikku untuk memaksa kami kakak beradik membuka rahasia kitab dan suling. Untung sekali adikku bertemu dengan engkau. Nah, tahukah kau sekarang? Hayo kita berlatih lagi. Kau sudah dapat menangkap contohku tadi?"

"Sudah, Paman. Memang mendatangkan perasaan yang hebat, tapi aku masih bingung karena hal ini memang amat sukar dimengerti."

"Memang. Sekarang biarlah kau belajar meniup suling..."

"Paman, saya sudah biasa bersuling dan mendapat petunjuk Suhu..."

"Bagus! Ah, agaknya memang sudah jodoh. Nah, lekas kau meniup suling ini dan usahakan agar suara sulingmu dapat sesuai dengan bunyi dan sifat huruf yang kubaca!"

Mereka bertukar benda. Kakek itu menyerahkan suling emas dan menerima kitab dari tangan Bu Song. Sastrawan Ciu Bun membacakan sajak terakhir dari kitab itu dan Bu Song segera meniup sulingnya. Hebat tiupan suling anak muda ini. Memang ia berbakat sekali sehingga tiupannya mengandung getaran perasaannya. Pula, karena Bu Song sendiri sudah hafal akan isi kitab, ia segera dapat menyesuaikan bunyi sulingnya, mengarah bunyi huruf dan ketika meniup suling, seluruh perhatiannya dicurahkan kepada makna dari huruf yang ditiupnya. Terdengar perpaduan suara sajak dan suling yang luar biasa, mengalun-alun dan merayu-rayu.

ADA muncul dari TIADA.

Betapa mungkin mencari sumber TIADA?

Post a Comment