Halo!

Suling Emas Chapter 163

Memuat...

"Taisu telah menyelamatkan nyawa saya, sungguh merupakan budi besar."

"Penyelamat atau pencabut nyawa hanyalah menjadi kekusaan Thian! Sungguhpun kebetulan saya berada disini ketika Goanswe diserang orang-orang itu, akan tetapi sesungguhnya bukan karena kebetulan saya mendekati Goanswe. Saya memang sengaja membayangi Goanswe ketempat ini karena maksud tertentu."

"Ahh...?"

Jenderal Cao kaget dan memandang tajam.

"Maksud apakah?"

"Saya mempunyai urusan pribadi dengan orang yang kini kebetulan berada dalam barisan Goanswe. Tanpa perkenan Goanswe saya tidak berani mencari keributan dalam pasukan Goanswe."

Jenderal itu mengelus jenggotnya.

"Hemm, siapakah orang itu?"

"Dia adalah Kong Lo Sengjin, atau dahulu terkenal dengan nama Sin-jiu Couw Pa Ong!"

"Hah? Sin-jiu Couw Pa Ong? Akan tetapi dalam barisanku tidak ada Kakek terkenal itu!"

"Sudah lama saya mengejarnya dan tidak salah lagi, dia berada dalam barisan Goanswe."

"Kalau begitu, biarlah kita periksa besok. Marilah Taisu ikut bersama saya. Malam ini harap Taisu suka menemani saya dan besok kita sama-sama memeriksa. Kalau betul ada Kakek itu dengan barisan, sudah tentu saya perkenankan Taisu untuk menyelesaikan urusan pribadi Taisu dengan dia tanpa campur tangan kami."

"Terima kasih. Goanswe benar bijaksana."

Kim-mo Taisu memberi hormat, kemudian mereka berdua berjalan bersama kembali ke perkemahan. Jenderal Cao bercakap-cakap dan rasa cocok sekali dengan pendekar itu sehingga mereka bercakap-cakap sampai jauh malam. Kim-mo Taisu diberi tempat mengaso dekat tenda besar dan lewat tengah malam barulah keduanya menghentikan percakapan lalu tidur di kemah masing-masing.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada pagi hari benar, ketika matahari belum muncul, baru sinarnya kemerahan yang nampak. Pada saat itu, Panglima Besar Cao Kuang Yin masih tidur nyenyak. Tiba-tiba ia terbangun dengan kaget dan tahu-tahu didalam kemahnya telah penuh orang. Tujuh orang panglima bawahannya dan sebelas orang perwira, kesemuanya adalah komandan-komandan pasukan dalam barisan yang ia pimpin, telah hadir didalam kemahnya dan diantara mereka tampak seorang kakek lumpuh bertongkat. Panglima tertua membawa sebuah baki perak yang ditutup sutera kuning dan para komandan yang lain berdiri dengan pedang ditangan!

"Heee! Apa artinya ini? Apa kehendak kalian sepagi ini tanpa dipanggil memasuki kemahku dan mengganggu orang tidur?"

Cao Kuang Yin berseru sambil melompat turun dari permbaringannya. Ia sama sekali tidak merasa khawatir karena ia percaya penuh kepada semua pembantunya ini yang ia tahu amat setia dan sayang kepadanya.

"Kami menghadap Goanswe untuk mempersilakan Goanswe untuk mempersilahkan Goanswe mengenakan pakaian ini kemudian memimpin kami semua kembali ke kota raja,"

Kata panglima tertua itu sambil menyodorkan baki. Cao Kuang Yin merasa heran, mengerutkan keningnya dan membuka sutera kuning yang menutupi baki. Diatas baki itu, terlipat rapi, tampak satu stel pakaian berwarna kuning bersulamkan naga. Kagetlah Cao Kuang Yin. Pakaian seperti itu adalah pakaian kaisar! Pakaian seorang raja besar! Mereka ini menghendaki ia mengenakan pakaian kaisar dan memimpin mereka kembali ke kota raja. Itu berarti bahwa mereka ini menghendaki ia memberontak dan menggantikan kedudukan raja!

"Ah, mana mungkin...?"

Ia membantah dan undur dua langkah. Kakek lumpuh itu menggerak kan tongkatnya maju, akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Kim-mo Taisu telah menerobos dari belakang Cao Kuang Yin dengan merobek tenda. Dengan sikap tenang ia berdiri disebelah kiri panglima itu dan berkata,

"Coa-goanswe, apakah mereka ini perlu dibasmi?"

Akan tetapi Cao Kuang Yin menggeleng kepala.

"Biarkan mereka bicara dulu."

Kakek itu yang bukan lain adalah Kong Lo Sengjin, kaget sekali melihat munculnya Kim-mo Taisu, akan tetapi setelah mengenalnya ia pun tersenyum, dan kemudian berkata,

"Bagus! Hadirnya Kim-mo Taisu merupakan penambahan kekuatan kita. Cao-goanswe, perkenalkanlah, aku adalah Sinjiu Couw Pa Ong. Aku mengenal baik kakekmu yang menjadi panglima ketika masa jayanya Kerajaan Tang. Semenjak Kerajaan Tang roboh oleh para pengkhianat bangsa, raja-raja bermunculan akan tetapi sampai sekarang pun tidak ada raja yang cukup bijaksana seperti dikala Kerajaan Tang. Oleh karena itu, para Ciangkun ini bermufakat untuk mengangkat Goanswe menjadi raja baru dan kita semua kembali ke kota raja untuk mengambil alih kekuasaan. Harap saja Goanswe tidak menolak oleh karena keputusan para Ciangkun ini sudah bulat. Dan karena hal ini cocok dengan cita-citaku, maka aku pun memasuki persekutuan ini. Kuharap saja tidak perlu aku harus menghadapi cucu bekas sahabatku sebagai musuh!"

Post a Comment