Halo!

Suling Emas Chapter 159

Memuat...

Suma Boan memaki bekas sahabatnya.Bu Song diam saja. Pikirannya mengakui kesalahannya, akan tetapi hatinya memberontak. Hatinya tidak mau mengakui salah. Ia dan Ceng Ceng saling mencinta. Apa salahnya? Dibelakang istana, Suma Boan memanggil seorang pengawal. Ia mendorong tubuh Bu Song sampai terkapar di atas tanah.

"Ikat dia pada pohon itu!"

Perintahnya. Pelayan itu menyeringai. Ia mengenal Bu Song dan ia tidak tahu mengapa majikannya marah-marah kepada pegawai muda ini. Akan tetapi Bu Song bukanlah sahabat para pengawal. Pengawal-pengawal adalah orang-orang yang mengutamakan kekerasan dan kekuatan.

Seorang pemuda lemah tukang pegang pena dan kertas tentu saja bukan golongan mereka dan mereka menganggapnya rendah. Dengan kasar ia menarik lengan Bu Song, menelikungnya ke belakang lalu medorong pemuda itu kearah pohon. Kemudian mengikat kedua tangan Bu Song kebelakang pohon itu dengan sehelai tambang yang besar dan kuat. Hampir patah rasanya tulang lengan Bu Song. Ia merasa betapa sambungan tulang pundaknya sakit-sakit dan hampir terlepas. Namun sedikit pun tidak pernah terdengar keluhan dari mulutnya. Dia seorang pemuda yang tahan derita, daya tahannya luar biasa berkat gemblengan yang tak diketahuinya sendiri dari suhunya, Kim-mo Taisu.

"Hayo, sekarang kau mau bicara apa? Keparat kurang ajar!"

Suma Boan melangkah maju dan "plak-plak-plak!"

Kedua pipi Bu Song ditampar sekerasnya sampai kepala Bu Song bergoyang-goyang kekanan kiri.

"Suma-kongcu, bicara apa lagi? Aku dan dia saling mencinta, kalau itu kau anggap bersalah, bunuhlah, aku tidak takut mati."

"Setan...!"

Suma Boan marah sekali, tangan kanannya memukul dada dan tangan kiri menghantam kearah perut. Bu Song maklum akan hebatnya pukulan yang melayang datang. Ia tidak takut mati, akan tetapi ngeri juga membayangkan rasa nyeri dipukul maka otomatis hawa sakti ditubuhnya berkumpul kearah dada dan perut.

"Dukk! Duukk!"

Dua pukulan hebat itu tentu akan menghabiskan nyawa orang. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya hati Suma Boan ketika pukulannya bertemu dengan kulit yang keras sehingga pukulan-pukulan itu membalik. Namun Bu Song menjadi sesak napasnya dan terengah-engah.

"Jaga dia disini sampai pagi, kalau banyak cakap boleh pukul mukanya tapi jangan dibunuh!"

Akhirnya Suma Boan meludahi muka Bu Song dan pergi dari tempat itu. Pengawal itu tertawa ha-ha-hi-hi lalu duduk bersandar batu karang hiasan dibelakang istana. Kiranya Suma Boan melaporkan kepada ayahnya tentang peristiwa semalam. Tentu saja Pangeran Suma Kong menjadi kaget bukan main dan marah sekali.

"Keparat, anak setan tidak mengenal budi orang! Bunuh saja dia! Siksa biar tahu rasa!"

Kemudian pangeran ini melangkah lebar menuju kekamar anaknya, Suma Ceng. Waktu itu matahari telah bersinar terang. Suma Boan menuju kebelakang istana dan makin gemas hatinya melihat Bu Song terikat dipohon itu. Alangkah tenang wajah pemuda itu, pikirnya. Sedikitpun tidak memperlihatkan ketakutan. Si Pengawal cepat bangkit berdiri ketika melihat majikannya muncul.

"A Piauw, urusan dengan bedebah ini adalah urusan antara dia dan aku. Hanya engkau yang menjadi saksi. Tak perlu kau bicarakan dengan orang lain. Kalau ada yang tanya, bilang saja bahwa kau tidak tahu. Mengerti?"

"Baik, Kongcu."

Bu Song mengangkat mukanya memandang Suma Boan, lalu berkata,

"Suma-kongcu, kau benar, urusan ini adalah urusan antara engkau dan aku. Seperti kukatakan malam tadi, kalau kau menganggap aku telah melakukan sesuatu yang salah dan kau akan menghukumku, lakukanlah. Aku bersedia kau bunuh, akan tetapi jangan kau persalahkan dia."

"Tutup mulut!"

Bentak Suma Boan yang mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku bajunya.

"A Piauw, kau ambil secawan arak!"

Pengawal itu tadinya bingung. Untuk menghukum seorang lawan, mengapa harus mengambil secawan arak? Akan tetapi ia tidak berani membantah, berlari cepat meninggalkan tempat itu dan kembali lagi membawa sebuah cawan yang terisi arak setengah lebih. Suma Boan membuka bungkusannya, menuangkan sedikit bubuk hitam ke dalam cawan. Arak yang tadinya berwarna merah itu lalu berubah menjadi hitam dan mengeluarkan uap! Tahulah Si Pengawal bahwa arak itu diberi racun. Ia menyeringai heran. Untuk membunuh lawan, mengapa tidak sekali pukul atau bacok saja dengan senjata? Mengapa harus menggunakan arak beracun?

Post a Comment