"Eng-moi..."
Bu Song mengulang panggilannya dan kini menyentuh pundak gadis itu lalu tertawa karena mengira gadis itu masih saja mempermainkannya. Akan tetapi Eng Eng kini mengangkat kedua tangan ditutupkan pada mukanya. Bu Song terheran. Ada apalagi gadis ini? Seperti orang malu-malu! Heran benar! Selamanya belum pernah Eng Eng bersikap seperti ini.
"Eng-moi, kau kenapa...?"
Ia bertanya kini memegang kedua pundak itu perlahan lalu membalikkan tubuh gadis itu supaya menghadapinya. Eng Eng menurut saja dan tubuhnya, membalik, akan tetapi kedua tangannya masih ditutupkan didepan mukanya yang menunduk.
Bu Song makin terheran-heran. Kedua tangannya yang memegang pundak tadi mendapatkan pundak yang gemetar seperti seekor kelinci ketakutan! Dari celah-celah jari tangan yang menutupi muka, ia melihat kulit muka yang merah sekali, merah sampai ke telinga dan leher. Alangkah bagus jari-jari tangan Eng Eng, tiba-tiba ia berpikir. Selama ini belum pernah ia memperhatikan jari tangan gadis itu dan baru sekarang ternyata olehnya betapa indahnya bentuk jari-jari itu halus meruncing dan kuku jarinya bersih mengkilap. Gadis itu tidak menangis, akan tetapi mengapa menutupi muka seperti orang malu-malu?
"Eng-moi, sepulangku dari dusun, setengah mati aku mencarimu. Setelah kudapatkan kau disini, mengapa kau menutupi mukamu? Eng-moi, kau pandanglah aku..."
Perlahan Bu Song memegang kedua lengan gadis itu dan menurunkannya. Muka itu kini tampak, masih menunduk dan merah sekali, bibirnya gemetar menahan senyum.
"Moi-moi kau pandanglah aku, mengapa kau tidak berani memandangku?"
"Kau... kenapa, Moi-moi...?"
Tanyanya, heran dan mulai gelisah. Eng Eng dapat menangkap kegelisahan dari suara Bu Song, jawabnya tanpa mengangkat muka,
"... aku... malu, Song-ko..."
"Malu? Malu kepada siapa dan karena siapa dan karena apa?"
Perlahan Eng Eng kembali mengangkat mukanya, kini memandang wajah Bu Song, dan menggigit bibir, lalu berkata setelah menekan rasa malu dihatinya,
"Tadi Ayah telah berangkat pergi dan dia bilang... dia bilang... bahwa aku dan engkau... ahh...!"
Eng Eng tak dapat melanjutkan kata-katanya, terlampau malu hatinya dan ia kembali menunduk. Bu Song memegang lagi kedua tangan Eng Eng, tertawa dan berkata,
"Tentang perjodohan kita...?"
Eng Eng mengangguk, lalu berkata lirih,
"Sejak keberangkatan Ayah, aku bingung. Aku malu menanti kedatanganmu, aku... aku takut bertemu denganmu, maka aku lari sembunyi..."
"Ha-ha, lucu engkau! Mengapa kau malu, Moi-moi?"
Makin erat Bu Song memegang tangan Eng Eng. Jari-jari mereka saling cengkeram dan jari tangan Bu Song mencegah jari tangan Eng Eng yang hendak melepaskan diri, akan tetapi usaha melepaskan diri itu tidaklah terlalu sungguh-sungguh.
"Mengapa malu?"
Bu Song mengulang. Eng Eng mengangkat muka, matanya bersinar-sinar, bibir tersenyum malu, lalu cemberut dan berkata galak,
"Ahh... malu ya malu....!"
Lalu membuang muka.
"Eng-moi, setelah oleh Suhu kita dijodohkan, tidak... tidak senangkah hatimu? Tidak bahagiakah perasaanmu seperti yang kurasakan?"
Mendengar suara Bu Song menggetar penuh perasaan, sejenak jari tangan Eng Eng mencengkeram tangan Bu Song. Gadis itu memandang lagi.
Dua pasang mata bertemu pandang, seakan-akan saling menjenguk isi hati masing-masing, dari jari tangan mereka terasa getaran aneh yang mewakili suara hati, kemudian Eng Eng menunduk perlahan, mengangguk tegas, terisak dan menyembunyikan mukanya di dada Bu Song yang bidang! Bu Song mendekap kepala itu ke dadanya, seakan-akan ingin ia memasukkan kepala yang dicintanya itu ke dalam dada untuk selamanya. Kedua kakinya menggigil, entah mengapa ia hampir tidak kuat berdiri, demikian pula Eng Eng. Bu Song lalu menarik tubuh Eng Eng ke bawah, duduk di atas rumput tebal. Mereka tidak bicara lagi, terayun dalam gelombang asmara yang membuat mereka seakan-akan terayun di angkasa, dibuai mimpi indah. Mereka tidak bicara, tidak bergerak. Eng Eng meletakkan kepala di atas dada yang bidang, rambut kepalanya yang halus dibelai jari-jari tangan Bu Song penuh kasih sayang dan dalam keadaan seperti itu mereka saling pandang penuh kemesraan.
"Eng-moi..."
Akhirnya terdengar Bu Song berkata, suaranya terdengar oleh telinga Eng Eng berbeda dari biasanya. Kini suara pemuda itu terdengar amat merdu dan mesra, terbungkus kasih sayang yang membuat hatinya sendiri menjadi terharu dan membuat ia ingin terisak menangis sepuasnya.
"Eng-moi, semenjak kecil, kita sudah saling mencinta, seperti kakak dan adik. Akan tetapi karena kita bukanlah kakak beradik, maka tidak mungkin cinta kasih kita dapat berlangsung selamanya. Kalau aku memikirkan betapa kelak kita harus berpisah, hatiku serasa ditikam pisau. Akan tetapi, dengan kebijaksanaan Suhu, kita dijodohkan! Alangkah bahagia hatiku, Eng-moi, dan aku menjadi lebih beruntung lagi karena melihat kau pun merasakan kebahagiaan seperti yang kurasakan."
Eng Eng tersenyum penuh kebahagiaan.
"Kalau Suhu sudah pulang, aku akan pergi menempuh ujian, Moi-moi! Doakan saja aku berhasil agar aku dapat bekerja dan setelah aku lulus ujian, kita... kita..."
"Bagaimana...?"
Eng Eng mendesak tak sabar.
"Kita lalu kawin!"
"Ihh...!"
Eng Eng membalikkan muka, bersembunyi didada, tak kuasa menentang pandang mata yang nakal. Bu Song hanya tertawa dan menciumi rambut yang harum.
"Song-koko, kemarin dulu itu..."
"Ya...?"
"Ketika kau.. kau menciumku..."
"Ya, mengapa...?"
"Kau sudah tahu tentang... tentang perjodohan kita?"
Bu Song tertawa menggoda.
"Tentu saja sudah. Ayahmu telah memberi tahu. Mengapa? Kau marah-marah karena kucium hidungmu, sekarang pun aku akan..."
"Tidak! Jangan...!"
Eng Eng meronta ketika Bu Song menundukkan muka, lalu meloncat bangun dan memegang tangan Bu Song sambil tertawa-tawa.
"Tidak boleh, Song-koko!"
"Mengapa tidak boleh?"
Bu Song bertanya heran, kagum melihat wajah yang tertawa-tawa dan berseri-seri segar bagaikan sekuntum bunga tersiram embun pagi.
"Bukankah sejak kecil sering engkau kucium?"
"Lain dulu lain sekarang! Dulu kita seakan-akan kakak beradik, sekarang..."
"Sekarang bagaimana?"
"Sekarang kita... sudahlah, pendeknya aku tidak mau sebelum kita... sebelum kita menikah!"
Bu Song juga tertawa dan mengangguk-angguk mengangkat tangan Eng Eng ke depan hidung dan menciumi tangan itu.
"Engkau benar, Moi-moi. Aku tadipun hanya bersenda-gurau. Jangan khawatir! Betapapun besar cinta kasihku kepadamu, aku akan menahan diri. Aku cukup menghormatmu, aku menghargaimu dan aku tidak akan merusak kepercayaanmu kepadaku. Asal kau suka menegur saja kalau aku lupa..."