Halo!

Suling Emas Chapter 130

Memuat...

Bu Song menghela napas.

"Sejak Ibu Guru meninggal, karena melihat Suhu setiap hari menutup diri dan tenggelam berduka cita. Kalau Suhu tidak mau makan, Eng-moi pun tidak suka makan. Kalau Suhu sudah tidur, barulah Eng-moi mau mengaso. Kerjanya hanya menangis setiap hari dan teecu sampai bingung bagaimana harus menghiburnya."

Naik sedu-sedan di tenggorokan Kim-mo Taisu.

"Ahhh, salahku... salahku... mengapa aku selemah ini, Bu Song."

Ia memandang wajah muridnya yang agak kurus dan pucat.

"Kau pun tentu ikut pula kurang makan kurang tidur! Jangan bohong."

"Melihat keadaan Suhu dan Eng Moi, bagaimana teecu bisa senang? Semua akibat sambung menyambung. Subo meninggal dan Suhu berduka. Suhu berduka dan Eng-moi bersusah. Eng-moi bersusah, teecu bingung merana."

"Ah, memang aku bersalah, Bu Song. Lekas kau susul Adikmu dan suruh pulang!"

Bu Song girang hatinya. Bukan hanya girang karena berita tentang pertunangannya dengan Eng Eng atau tentang maksud suhunya menyuruh dia mengikuti ujian di kota raja, melainkan terutama sekali girang karena perubahan suhunya ini tentu akan mengubah pula keadaan Eng Eng. Ia melangkah lebar dan berjalan cepat mendaki sebuah puncak di mana ia yakin tentu Eng Eng berada. Ia tidak tahu betapa suhunya mengawasi dari belakang lalu menarik napas panjang dan berkata seorang diri.

"Anak baik sekali! Mutiara belum tergosok. Kelak ia akan menjadi pendekar yang sukar dicari bandingannya. Akan tetapi bagaimana dapat menggerakkan hatinya untuk menjadi pendekar? Kematian isteriku tentu lebih membuat ia benci akan ilmu silat. Jelas tampak dimukanya betapa ia menyalahkan ilmu silat dalam peristiwa ini!"

Tepat seperti dugaan Bu Song, ia mendapatkan Eng Eng duduk berlutut diatas tanah di puncak yang sunyi, menangis sesenggukan. Bu Song berhenti dan memandang dengan hati perih. Kasihan sekali, pikirnya. Akan tetapi ketika ia melangkah mendekat, tidak seperti biasanya jantungnya berdebar aneh. Rasa iba hatinya bercampur dengan rasa yang aneh, yang membuat jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas.

"Eng-moi...!"

Ia memanggil lirih. Sejenak isak itu terhenti dan Eng Eng menoleh, memandang kepada Bu Song dengan mata basah. Kemudian ia menangis lagi sambil berkata,

"koko, mau apa kau menyusulku disini? Tinggalkanlah aku seorang diri..."

Tangisnya makin menjadi. Bu Song maju mendekat, berlutut dan menyentuh pundak gadis itu.

"Eng-moi, mengapa kau menyiksa diri seperti itu? Menyerahlah kepada keadaan, Moi-moi. Ahh... apakah yang kekal didunia ini? Sewaktu-waktu maut pasti merenggut, memisahkan kita dari orang yang kita sayang. Bahkan setiap saat dapat saja maut merenggut nyawa kita sendiri. Moi-moi, kuatkanlah hatimu, tenangkan batinmu. Ah, sakit rasa hatiku melihatmu sehari-hari menangis begini..."

"Song-koko...!"

Gais itu makin keras menangis dan menutupkan muka pada dada pemuda yang berlutut didepannya. Bu Song mendekap kepala itu, jantungnya berdebar penuh kasih sayang. Setelah tangis gadis itu berkurang, ia perlahan mengangkat muka itu dari dadanya, memegang kedua pipi gadis itu dan memandang mukanya. Sepasang mata jeli yang memerah, hidung kecil mancung yang ujungnya merah dan pipi yang basah air mata, pipi yang agak pucat dan kurus.

"Moi-moi, kau kehilangan Ibumu, akan tetapi disini masih ada aku, masih ada Ayahmu. Aku akan menjagamu, akan menemanimu selamanya, Moi-moi."

Air mata bercucuran keluar dari mata Eng Eng dan gadis ini terisak sambil memejamkan matanya. Tak tahan Bu Song menyaksikan ini dan ia menundukkan mukanya. Bibirnya menyapu ujung hidung, mengecap air mata dari pipi.

"Ah-hu-hu-hu...!"

Eng Eng menangis lagi dan mendekapkan muka pada dada yang bidang itu. Bu Song menghela napas dan mengelus-ngelus rambut yang hitam halus. Tiba-tiba Eng Eng mendorongkan kedua tangannya pada dada Bu Song. Biarpun tangan gadis itu kecil halus, namun ia memiliki tenaga lwee-kang, maka tubuh Bu Song terjengkang ke belakang! Pemuda itu kaget, cepat merayap bangun dan memandang. Gadis itu masih duduk di tanah, air matanya masih bertitik akan tetapi tidak menangis lagi, mulutnya cemberut dan ia menegur, nada suaranya marah.

"Song-koko... apa yang kau lakukan tadi...??"

"... apa...? Mengapa...? Ah, aku... menciummu... aku kasihan..."

"Engkau nakal!"

"Moi-moi, bukan baru sekarang aku menciummu!"

Bu Song memperotes.

"Memang sejak kita masih kecil kau suka mencium, memang tukang cium! Akan tetapi, kau biasa hanya mencium pipi. Kenapa tadi kau... kau mencium hidung...??"

Mata itu tidak menangis lagi, kini memandang marah.

"Ah, maaf, Moi-moi. Aku tidak... tidak sengaja... aku... aku..."

Aneh sekali. Terbayang senyum dibibir merah itu.

"Sudahlah! Aku bukan marah karena kau mencium, melainkan... ah, hidung dan pipiku kotor, aku sedang menangis, penuh air mata, mengapa kau tidak menunggu mukaku bersih kalau mencium?"

Bu Song tercengang. Sungguh masih seperti kanak-kanak! Akan tetapi memang sejak kecil Eng Eng tinggal di puncak gunung, jarang bergaul dengan orang banyak. Dialah satu-satunya kawan bermain, seperti kakak dan adik. Eng Eng masih kekanak-kanakan. Akan tetapi ayahnya sudah bicara tentang jodoh!

"Eng-moi, mari kita pulang."

Dia membungkuk dan menyentuh pundak gadis itu.

"Hari sudah hampir petang."

"Tidak, aku tidak pulang!"

Kata Eng Eng merajuk dan jari tangannya menghapus air matanya yang mulai keluar lagi.

"Untuk apa pulang melihat Ayah bersusah saja? Aku tidak pulang, biar tidur disini!"

"Aihh, jangan begitu, Moi-moi. Suhu sekarang sudah sadar kembali, tadi sudah keluar pondok dan menanyakanmu. Suhu mengharap-harap pulangmu, Moi-moi."

"Kau bohong!"

"Wah, kapan aku pernah membohongimu? Marilah adik manis, tuh Ayahmu menanti disana. Sebentar lagi gelap disini dan Suhu tentu akan marah kalau aku tidak pulang bersamamu. Marilah...!"

Ia menarik tubuh gadis itu berdiri. Eng Eng seperti sengaja berlambat-lambat dan merajuk manja sehingga ia setengah diseret oleh Bu Song.

"Marilah, Moi-moi. Apakah kau masih marah kepadaku? Boleh kau memukulku agar puas hatimu!"

"Siapa mau pukul? Aku tidak marah!"

Akan tetapi suaranya ketus.

"Kalau tidak marah marilah kita jalan cepat-cepat, ayahmu menanti."

"Kau janji dulu!"

"Janji apa?"

"Lain kali mau cium, harus bilang."

Bu Song menahan senyum.

"Mengapa?"

"Biar kubersihkan dulu pipi dan hidungku."

Bu Song tak dapat menahan lagi senyumnya. Ia menjura dan mengangkat kedua tangan didepan dada.

"Baiklah, baiklah, Nona. Dan ampunkan aku....!"

Eng Eng terkekeh ketawa lalu tubuhnya berkelebat lari turun dari puncak itu meninggalkan Bu Song. Bu Song juga tertawa dan mengejar, akan tetapi tentu saja ia tidak mampu mengejar gadis yang terlatih baik memiliki gin-kang yang lumayan itu. Karena itu Bu Song lalu tidak mengejar lagi. Ia berjalan seenaknya. Biarlah Eng Eng pulang lebih dulu, pikirnya, agar tidak canggung rasanya bagi gadis itu kalau ayahnya memberi tahu tentang perjodohan. Sambil tersenyum-senyum Bu Song melanjutkan perjalanan pulang perlahan-lahan, hatinya girang sekali dan ia mengenang gadis kekasihnya itu yang menjadi teman bermain sejak kecil.

Semenjak kecil, Eng Eng memang lincah jenaka sekali, kadang-kadang amat nakal dan manja. Semenjak kecil, karena hubungan mereka seperti kakak beradik, tidak jarang ia mencium pipi Eng Eng, ciuman kanak-kanak dan setelah mereka menjadi besar, ciuman mereka itu menjadi ciuman saudara. Akan tetapi tadi, terus terang harus ia akui bahwa ketika ia tadi mencium Eng Eng, berbeda sekali perasaannya dengan biasanya. Agaknya perasaan inilah yang mengagetkan Eng Eng. Ia tersenyum lagi, kemudian Bu Song bersenandung. Kegembiraan hatinya membuat ia bernyanyi-nyanyi perlahan. Gurunya benar. Ia tidak hanya mencintai Eng Eng sebagai seorang kakak, malah lebih dari itu, ia mencintai Eng Eng sebagai seorang pria mencintai seorang wanita!

Sebagai cinta gurunya terhadap ibu gurunya! Karena sejak kecil hidupnya selalu di puncak dekat guru dan ibu gurunya, maka kedua orang tua inilah yang ia jadikan contoh dan ia gembira sekali. Guru dan ibu gurunya selalu hidup rukun, dan ia akan senang sekali kalau dapat melanjutkan hidup bersama Eng Eng sebagai isterinya. Ketika ia tiba dekat pondok, Bu Song melihat Eng Eng menangis. Gadis ini bersembunyi dibalik pohon tak jauh dari pondok. Didepan pondok itu terdengar dua orang berbantahan dengan suara keras. Ternyata mereka itu adalah Kim-mo Taisu dan Kong Lo Sengjin, kakek lumpuh yang dikenal oleh Bu Song sebagai paman ibu gurunya yang meninggal dunia. Melihat wajah Eng Eng pucat sekali, Bu Song kaget dan heran. Akan tetapi ia pun tidak berani muncul dan hanya melihat dari jauh. Ia hanya mendengar ucapan Kong Lo Sengjin yang suaranya parau.

"Nah, Kwee Seng! Jangan dikira aku tidak tahu akan riwayatmu yang busuk itu! Sekali lagi kutekankan, engkau tidak berhak menentukan perjodohan Eng-jin! Mau enaknya saja engkau ini! Sekarang pun, apa tanda setiamu terhadap isteri? Isteri terbunuh, musuh berkeliaran, dan kau enak-enak disini. Inikah yang disebut orang gagah?"

"Kong Lo Sengjin. Kau pergilah,"

Jawab gurunya, suaranya mengandung duka dan marah.

Post a Comment