Tiba-tiba wajah berseri nyonya itu digelapi mendung, bahkan kedua matanya menjadi basah sehingga cepat-cepat ia mengusap air mata itu dengan saputangannya. Dengan muka tunduk ia berkata,
"Suamiku, memang aku berterima kasih kepada Thian, juga bersyukur kepadamu yang telah memberi kebahagiaan hidup kepadaku di tempat ini. Aku cukup bahagia, akan tetapi... ah, betapa aku dapat melupakan ayah bundaku terbunuh secara kejam, saudara kembarku menjadi... pelacur... dan aku sendiri, seandainya tidak bertemu denganmu, apa jadinya dengan aku? Semua itu karena kebiadaban musuh yang membunuh, merampok, memperkosa, menghina... suamiku, katakanlah, apakah aku harus diam saja sekarang? Apakah mungkin kebahagiaan hidupku tanpa mengingat sedikitpun akan penderitaan orang tua dan keluargaku? Suamiku, diwaktu sadar aku hidup bahagia di sampingmu dan di samping anak kita, akan tetapi tahukah kau betapa setiap malam aku bermimpi dan bertemu dengan arwah orang tuaku yang memandang penuh penyesalan? Ah, suamiku..."
Gin Lin lalu menangis. Kwee Seng memegang pundak isterinya.
"Tenangkan hatimu, isterku. Jangan kau kira bahwa aku pun tidak peduli akan hal itu semua. Akan tetapi, kurasa tidaklah tepat kalau urusan pribadi dicampuradukkan dengan urusan negara. Keluargamu terbasmi bukan karena urusan pribadi, melainkan karena urusan negara. Karena keluargamu bangsawan Tang, maka ketika Dinasti Tang roboh, tentu saja keluargamu terlanda malapetaka. Andaikata kau hendak membalas, kepada siapakah kau akan membalas? Dalam keributan seperti itu, dalam perang, mana bisa kita membalas kepada seseorang?"
"Memang betul ucapanmu, suamiku,"
Kata Gin Lin yang sudah dapat menenangkan hatinya.
"Dan memang aku tidak mendendam kepada seseorang, melainkan menaruh dendam kepada mereka yang menurunkan Dinasti Tang, karena mereka itulah yang menghancurkan keluarga kami. Karena itu, kalau anak kita sudah menikah, aku... ijinkanlah aku membantu Paman Couw Pa Ong untuk menghancurkan musuh sehingga dengan jalan itu berarti aku sudah melakukan kewajibanku berbakti kepada orang tua dan keluarga..."
"Baiklah... baiklah, kita bicarakan hal ini kelak. Apa kau kira aku dapat melepasmu begitu saja? Sekali kita berkumpul, untuk selamanya. Kalau memang kulihat bahwa musuh-musuhmu itu orang jahat, sebagai seorang pendekar tentu saja aku akan suka membantumu membasmi mereka."
Gin Lin memegang lengan tangan suaminya dan matanya basah memandang wajah suaminya ketika ia berkata terharu,
"Aku tahu engkau suamiku yang berhati baik sekali..."
Mereka berpadangan dan diam-diam Kwee Seng menarik napas. Ia hanya menaruh kasihan kepada wanita ini, wanita yang menjadi isterinya karena kebetulan dan terpaksa. Ia tahu bahwa Gin Lin amat mencintanya, mencintanya semenjak masih menyamar sebagai nenek di Neraka Bumi. Akan tetapi dia, cinta jugakah dia kepada isterinya ini? Sukar dikatakan, dan Kwee Seng akan membohongi diri sendiri kalau dia mengaku demikian. Cinta kasih terhadap wanita agaknya telah lenyap dari hati Kwee Seng. Hatinya sudah kosong. Cintanya sudah lenyap bersama Lu Sian. Akan tetapi, sampi mati pun ia tidak akan suka menyatakan hal ini melalui mulut, bahkan ia coba mengusir dari dalam hatinya setiap kali timbul. Ia merasa kasihan kepada Gin Lin dan akan membela isterinya ini dengan seluruh jiwa raganya.
"Isteriku, bukankah sekarang Paman Couw Pa Ong telah berhasil pula meruntuhkan Kerajaan Cin dan dengan demikian berarti sudah menang perang?"
"Betul, suamiku. Akan tetapi Paman bersekutu dengan golongan lain sehingga kini didirikan Kerajaan Han Muda (947-951). Akan tetapi Kerajaan Han ini pun selalu dibayangi musuh, selalu diserang dan keadaan Paman kabarnya makin payah..."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Merah wajah isterinya ketika menjawab,
"Aku telah menyuruh seorang penduduk lereng gunung pergi menyelidik ke kota raja...."
Kwee Seng terkejut. Hemmm, kiranya isterinya ini diam-diam tak pernah melupakan urusan negara. Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang kakek telah berada disitu, kedua kakinya bersila, tergantung diantara dua batang tongkat yang dipegangnya, menggantikan kedua kaki untuk berdiri.
"Paman...!"
Gin Lin berseru girang.
"Ah, kiranya Paman yang datang. Maafkan kami tidak dapat menyambut lebih dulu karena tidak tahu,"
Kata Kwee Seng yang sudah bangkit berdiri dan memberi hormat. Sejenak kakek itu tidak menjawab, hanya berdiri menatap tajam kepada suami isteri itu. Kemudian dia berkata,
"Kim-mo Taisu Kwee Seng, aku ingin bicara empat mata denganmu."
"Tentu saja boleh, silakan Paman masuk ke pondok kami yang buruk...."
"Tidak disitu, Kwee Seng. Mari kau ikut aku menuruni puncak. Dilereng sunyi sana kita bicara. Waktu hanya sedikit, musuh-musuh mengejar-ngejarku, aku perlu... bantuanmu, suami keponakanku!"
"Paman! Apakah yang terjadi...?"
Gin Lin berseru kaget.
"Diamlah kau, Lin-ji. Tidak perlu ribut-ribut, hanya perlu kau tahu bahwa Kerajaan Han Muda runtuh pula. Masih untung Pamanmu ini tidak tewas. Relakah kau kalau suamimu membantuku?"
"Tentu saja, Paman! Kwee-koko, kau pergilah ke lereng bersama Paman. Kasihanlah, bantulah..."
Ucapan nyonya ini disertai pandang mata penuh permohonan, juga suaranya menyembunyikan isak tangisnya. Agaknya ia sedih sekali mendengar bahwa pamannya kembali sudah jatuh!
"Baiklah, Lin-moi. Mari, Paman!"
Kedua orang sakti itu berkelebat cepat menuruni puncak. Di sebuah lereng yang sunyi Kong Lo Sengjin berhenti, lalu menjatuhkan diri duduk bersila dengan sepasang kakinya yang lumpuh sambil berkata,
"Kim-mo Taisu, kali ini kau benar-benar membutuhkan bantuanmu."
"Hemm, bantuan bagaimana yang Paman maksudkan?"
"Duduklah disini. Aku sengaja mengajakmu kesini agar lebih enak kita bicara secara terbuka, jauh dari wanita yang tentu akan mengganggu saja."
Di dalam hatinya Kwee Seng tidak setuju dengan pendapat ini, akan tetapi ia tidak membantah lalu duduk didepan kakek itu. Kakek yang sudah amat tua, akan tetapi dari pandang matanya jelas tampak semangat bernyala-nyala. Setelah melihat Kwee Seng duduk didepannya, kakek ini berkata, suaranya lambat perlahan.
"Engkau tentu telah mendengar dari isterimu betapa malapetaka hebat menimpa Kerajaan Tang berikut semua bangsawan dan keluarga kaisar. Dan tentu kau pun sudah tahu betapa aku kehilangan tenaga kedua kakiku dalam perang itu dan kemudian betapa aku mengorbankan seluruh hidupku untuk berusaha membangun kembali Kerajaan Tang yang telah dirobohkan para pemberontak."
Kwee Seng mengangguk.
"Bagaimana pendapatmu tentang semua usahaku itu?"
"Sudah sepatutnya mengingat bahwa Paman adalah seorang bekas pangeran dan Raja Muda Tang yang tentu harus bersetia kepada Kerajaan Tang,"
Jawab Kwee Seng sejujurnya.
"Bukan itu saja. Akan tetapi juga mengingat akan malapetaka yang menimpa keluargaku, keluarga Gin Lin isterimu. Jangan mengira bahwa aku aktif bergerak untuk mencari kedudukan. Sama sekali bukan. Terus terang kukatakan bahwa ketika Kerajaan Tang Muda berhasil meruntuhkan Kerajaan Liang, aku lalu mengundurkan diri ke pulau kosong di mana aku melatih dua orang muridku. Baru setelah Kerajaan Tang Muda roboh, aku keluar lagi dari pulau dan berusaha membangun kembali Kerajaan Tang. Akan tetapi, banyak pengikut Tang sudah tewas sehingga terpaksa dengan mengadakan persekutuan dengan golongan lain, akhirnya kami berhasil meruntuhkan Kerajaan Cin dan membangun Kerajaan Han Muda. Namun, begitu aku kembali ke pulau mengundurkan diri, sekarang Kerajaan Han telah runtuh kembali, hanya berdiri selama empat tahun saja (947-951)!"
"Hemm, lalu sekarang apa yang dapat kulakukan untuk membantu Paman?"
"Sekarang sudah runtuh semangatku untuk membangun kembali Kerajaan Tang. Sudah habis sekarang keturunan kaisar, dan sudah musnah pula pengikut-pengikutnya. Apa artinya kalau tinggal aku seorang? Betapapun juga, aku harus membalas dendam kepada tokoh-tokoh yang dahulu telah meruntuhkan Kerajaan Tang, juga tokoh-tokoh yang sekarang telah merobohkan Han Muda. Akan tetapi aku hanya sendiri, dan musuh-musuh itu begitu banyak. Oleh karena itulah. Kwee Seng, demi sakit hati dan dendam isterimu, maukah kau membantuku?"
"Maaf, Paman. Menurut pendapatku, keluarga isteriku terbasmi dalam keadaan perang dan dia sendiri pun tidak dapat mengatakan dengan jelas siapa-siapa orangnya yang melakukan pembasmian, karena dalam perang tentu keadaan kacau-balau dan seluruh barisan pihak musuh merupakan lawan. Tak mungkin saya dan isteri saya membalas secara membabi buta, karena bukankah tentara pihak musuh itupun hanya memenuhi tugas mereka? Tidak ada dendam pribadi dalam urusan perang. Adapun tentang membantu Paman, agaknya sudah sepatutnya aku membantu kalau Paman terancam bahaya. Akan tetapi, kulihat Paman tidak terancam siapa-siapa pada saat ini. Kalau Paman mempunyai musuh-musuh pribadi lalu minta bantuanku, tentu saja harus kulihat dulu siapakah mereka itu. Kalau mereka terdiri dari golongan jahat, tentu aku tidak akan segan-segan membantumu."
Kong Lo Sengjin menampar batu didekatnya sehingga hancurlah batu.
"Heh! Sudah kuduga kau akan banyak membantah! Banyak sekali musuh-musuhku dan sekarang pun aku sedang dikejar-kejar mereka. Diantara mereka adalah Ban-pi Lo-cia, Hek-giam-lo tokoh setan baru yang mewakili Khitan. Pouw-kai-ong Si Raja Pengemis baru yang jahat. Ma Thai Kun orang Beng-kauw yang murtad, dan terakhir ada pula Tok-siauw-kwi..."
"Ahh...?"
Tanpa disadarinya Kwee Seng berseru kaget.
"Hemm, kau kaget mendengar nama Tok-siau-kwi? Benar, dia adalah puteri Beng-kauwcu yang dulu menjadi tunanganmu!"
Kata Kong Lo Sengjin sambil memandang tajam. Diam-diam Kwee Seng mengeluh. Kiranya peristiwa dua puluh tahunan yang lalu itu telah diketahui pula oleh kakek sakti ini.
"Mereka adalah orang-orang jahat, akan tetapi tidak mempunyai urusan pribadi dengan saya, Paman. Pernah saya mendengar nama mereka yang terkenal kejam, akan tetapi kiranya hanya Ban-pi Lo-cia seorang yang menimbulkan dendam dihati saya karena dialah pembunuh keponakanmu Khu Kim Lin!"
"Hah, segala urusan wanita! Bagiku yang terpenting adalah karena mereka ikut bersekongkol merobohkan Kerajaan Han sehingga kini berdiri kerajaan yang menamakan dirinya Kerajaan Cou! Pendeknya, kau membantuku atau tidak menghadapi mereka?"
"Kalau Paman diancam dan diserang, saya tentu akan membela Paman. Akan tetapi mencari mereka untuk memusuhi? Benar-benar kurang cocok dengan..."
Pada saat itu terdengar pekik dari puncak. Samar-samar terdengar suara Khu Gin Lin menjerit memanggil suaminya disertai pekik minta tolong..
"Celaka....!"