"Goblok! Tolol sekali kalian! Bagaimana sampai berhasil disergap dan dibunuh? Benar-benar tidak berotak. Dan semua usaha ke istana gagal belaka, mengantar nyawa dengan sia-sia! Ah, baru beberapa tahun aku mengaso di Pek-coa-to (Pulau Ular Putih), usaha kita macet karena ketololan kalian. Kalau para pembantuku seperti kalian ini patriot-patriot konyol, mana mungkin Kerajaan Tang yang jaya dapat bangkit kembali?"
"Ampun, Ong-ya, sesungguhnya kami cukup hati-hati, akan tetapi semenjak Tok-siauw-kwi berada disini, kami tidak berdaya apa-apa. Semua serbuan ke istana gagal dan teman-teman kita banyak yang mati konyol. Gerakan kita di sini menjad macet sama sekali."
Diam-diam Cu Bian terkejut. Kiranya inilah Sin-jiu Couw Pa Ong yang terkenal pula dengan julukannya Kong Lo Sengjin? Ia memandang penuh perhatian dan melihat betapa kedua kaki yang tergantung di kursi itu lemas dan lumpuh, ia tidak ragu-ragu lagi. Hatinya berdebar dan ia menoleh kebelakang. Kalau saja ada pembantu, ah, kalau saja ada Sian-toanio! Akan tetapi masa ia tidak akan dapat mengalahkan seorang kakek yang lumpuh kedua kakinya? Dan orang kedua itupun kelihatan lemah.
"Huh, menghadapi Tok-siauw-kwi saja takut? Biarlah, setelah aku datang, akan kuhancurkan kepala siluman betina itu. Hemm, kau lihat baik-baik!"
Tiba-tiba kakek itu menggerakkan lengannya dan angin besar menyambar kearah jendela di mana Cu Bian mengintai.
"Brakk!"
Runtuhlah sebagian dinding jendela itu, akan tetapi Cu Bian sudah melompat ke samping, terus ia memutar golok yang sudah dicabutnya sambil menyerbu ke dalam rumah melalui jendela.
"Pemberontak tua bangka! Lebih baik kau menyerahkan diri untuk diadili daripada harus berkenalan dengan golokku!"
Bentaknya. Kong Lo Sengjin tidak mempedulikan panglima muda ini, bahkan menoleh kearah laki-laki temannya tadi sambil bertanya,
"Siapakah budak ini?"
Laki-laki itu meloncat kepinggir, gerakannya cukup ringan, dan ia berkata,
"Ong-ya, inilah dia Cu-ciangkun, panglima muda yang memimpin pembasmian teman-teman kita di kuil tua...!"
"Oho! Bagus sekali, kau mengantarkan nyawa kesini, budak. Lekas berlutut agar kau dapat terbebas dari kematian mengerikan!"
Suara Kong Lo Sengjin berubah menyeramkan.
"Ong-ya, dia ini seorang diantara kekasih Tok-siauw-kwi!"
Laki-laki itu berkata pula. Sementara itu, Cu Bian sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Pemberontak rendah! Rasakan golokku!"
Ia menerjang maju, membacok dengan goloknya, gerakannya cepat dan kuat sekali, goloknya lenyap berubah sinar putih seperti kilat menyambar kearah leher kakek itu.
"Singgg...!!"
Namun goloknya mengenai angin belaka karena kakek yang sakti itu telah mencelat keatas bersama kursinya! Dengan masih duduk diatas kursi, Kong Lo Sengjin telah berhasil mengelakkan sambaran golok! Gerakan luar biasa ini dibarengi suara tertawa bergelak-gelak.
Cu Bian penasaran sekali. Sambil berseru keras ia menerjang terus kemanapun berkelebatnya bayangan kakek bersama kursinya. Ia sudah memperoleh pelajaran dari wanita cantik itu, tidak hanya pelajaran bermain cinta, melainkan juga pelajaran untuk memperhebat gin-kangnya, lweekang dan ilmu goloknya. Namun menghadapi kakek lumpuh ini, ia benar-benar tidak berdaya. Goloknya selalu membacok angin belaka danpada detik terakhir, kakek itu selalu dapat berpindah tempat bersama kursinya dan masih tetap tertawa-tawa.
"Ha-ha, disuruh berlutut tidak mau, kau menghendaki kematian yang mengerikan!"
Kakek itu berkata dan lengan bajunya yang panjang itu berkibar menyambar ke depan, yang kanan menangkis golok, yang kiri menyambar ke arah kepala Cu Bian. Bukan main kagetnya pemuda ini ketika goloknya hampir saja terlepas dari pegangannya bertemu dengan ujung lengan baju. Akan tetapi ia lebih memperhatikan sambaran ujung lengan baju ke dua ke arah kepalanya. Cepat ia miringkan tubuh membuang diri, akan tetapi tetap saja pundaknya kena dihantam ujung lengan baju.
"Plakk!"
Perlahan saja tampaknya hantaman itu, namun akibatnya cukup hebat karena tubuh Cu Bian terhuyung-huyung kebelakang dan kepalanya serasa hampir pecah saking hebatnya rasa nyeri di pundaknya. Namun orang muda ini mempunyai keberanian besar. Ia meloncat bangun dan kini dengan kemarahan meluap, sambil meluapkan rasa nyeri yang menusuk jantung, ia menerjang maju lagi dengan dahsyat.
"Hah, rebahlah kau!"
Bentak Kong Lo Sengjin tanpa berpindah dari kursinya, hanya dengan gerakan kedua tangannya, dilain saat ia telah dapat merampas golok dan merobohkan Cu Bian dengan totokan yang membuat tubuh pemuda itu lemas dan seperti lumpuh. Cu Bian mengerahkan tenaga hendak bangun, akan tetapi begitu bangun duduk ia terbaring kembali karena tubuhnya menjadi amat lemas. Akan tetapi matanya tetap melotot memandang kakek ini, sedikit pun tidak membayangkan ketakutan. Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan diluar dan menerobos masuklah tiga orang berpakaian perwira diikuti oleh belasan orang anak buahnya. Mereka ini adalah pasukan keamanan di kota raja yang tadi melihat gerakan Cu Bian menyelidiki rumah kosong dan kini datang memberi bantuan.
"Kau hadapi mereka!"
Teriak Si Kakek dan sekali mengulur tangan, ia telah menyambar Cu Bian berikut goloknya, kemudian tubuhnya melayang kearah pintu.
"Serbu! Tolong Cu-ciangkun!"
Teriak seorang perwira dan mereka yang berada dekat pintu segera memapaki tubuh kakek yang melayang itu dengan tombak dan golok. Terdengar suara berkerontangan disusul robohnya empat orang perajurit ketika Kong Lo Sengjin menangkis dengan kebutan ujung lengan bajunya sambil mengibaskan tangan mengirim tamparan. Tubuhnya sudah mencelat keluar dengan mempergunakan sepasang tongkat yang tadinya ia sambar dari dekat meja, ia telah meleset jauh ke depan, sebentar saja lenyap dari tampat itu membawa tubuh Cu Bian yang tak dapat bergerak sama sekali dalam kempitannya.
Yang celaka adalah anak buah Kong Lo Sengjin yang tertinggal dalam rumah tua. Dia lihai juga, melawan mati-matian dengan golok rampasan, akan tetapi tiga orang perwira itu adalah pengawal-pengawal istana yang tangkas, maka setelah mengalami pertempuran hebat, akhirnya orang itu tewas dibawah bacokan banyak senjata dan tubuhnya hancur. Peristiwa tertawanya Cu-ciangkun oleh seorang kakek pemberontak amat menggegerkan kota raja. Penjagaan diperketat, diseluruh kota tampak para perajurit hilir mudik mengadakan pemeriksaan dan penjagaan. Juga sekitar istana dijaga keras. Namun semua itu tidak menghalangi Kong Lo Sengjin yang menyelundup kedalam istana, mempergunakan kepandaiannya yang luar biasa. Bagaikan seekor burung saja ia melompati pagar tembok yang mengurung istana, tidak tampak oleh para penjaga, kemudian menyelinap dalam gelap, meloncat ke atas bangunan istana, Cu-ciangkun masih berada dalam kempitannya ketika ia tiba diatas istana, mencari-cari.
Lu Sian juga mendengar tentang tertawannya Cu-ciangkun. Ia ikut merasa gelisah, karena Cu Bian merupakan seorang diantara kekasihnya yang menyenangkan hatinya. Ia menduga-duga siapa gerangan kakek tua lihai itu dan samar-samar ia teringat akan Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong. Diam-diam ia bergidik. Pernah beberapa tahun yang lalu ia menyaksikan sepak terjang kakek lumpuh itu yang amat lihai. Akan tetapi ia tidak takut sekarang. Bahkan iangin ia mencoba kepandaian kakek itu. Agaknya sekarang ia takkan kalah menandingi kesaktian Si Kakek yang ia tahu amat lihai ilmu silat tangan kosong dan amat kuat tenaga sin-kangnya untuk melakukan pukulan jarak jauh. Malam itu Lu Sian tak dapat tidur. Ia duduk dalam kamarnya termenung menghadapi meja. Karena hawa udara agak panas, ia membuka jendela kamarnya yang berbentuk bulat seperti bulan purnama.