Halo!

Suling Emas Chapter 109

Memuat...

"Dalam pertemuan ini kita saling cocok dan menjadi sahabat, akan tetapi janggal sekali sebutan yang masing-masing kita gunakan. Saudara Yap, namaku Lu Sian dan kalau kau suka memberi tahu berapa usiamu, kita dapat mengatur tentang sebutan."

Melihat wanita itu demikian terbuka dan jujur sikapnya, Kwan Bi merasa girang.

"Tahun ini usiaku dua puluh satu tahun."

"Kalau begitu biarlah aku menyebutmu Adik dan kau menyebutku Cici!"

Pemuda itu dengan muka gembira bangkit berdiri dan menjura.

"Lu-cici (Kakak Lu)!"

Lu Sian juga bangkit berdiri, tertawa gembira mengingat betapa pemuda ini menyangka dia she Lu bernama Sian. Ia pun menjura dan berkata dengan senyum melebar dan kerling mata menyambar,

"Yap-te yang baik...!"

Mereka duduk kembali dan Lu Sian mengangkat cawan arak mengajak minum, menawarkan makan dengan sikap lincah manis sehingga lenyaplah rasa malu-malu dan kikuk di pihak pemuda itu. Mereka makan dan sinar mata mereka saling sambar dan saling lekat di kala sumpit-sumpit mereka tanpa sengaja bertemu dan beradu ketika dalam waktu bersamaan mengambil masakan yang sama. Tadinya memang tidak disengaja, akan tetapi lama kelamaan ada unsur kesengajaan! Ketika hawa arak mulai membikin sepasang pipi Lu Sian menjadi kemerahan, ujung bibirnya bergerak-gerak manis dan sinar matanya memancarkan kehangatan, ia berkata,

"Adik Yap baru berusia dua puluh satu tahun sudah memiliki kepandaian hebat. Bolehkah aku tahu dari perguruan manakah?"

"Lu-cici terlalu memuji. Kepandaianku amat jelek dan masih rendah, boleh dibilang paling rendah diantara murid-murid Siauw-lim-pai."

"Ahh! Kiranya murid Siauw-lim-pai?"

Lu Sian menepuk kedua tangannya dengan pandang mata kagum, lalu ia tertawa dan berdiri sambil memberi hormat.

"Maafkan tadi aku berlaku kurang hormat kepada seorang pendekar besar dari Siauw-lim!" "Lu-cici jangan metertawakan Siauw-te!"

Pemuda itupun berdiri dan tertawa.

"Kau membikin aku menjadi kikuk saja! Marilah kita duduk kembali dan jangan terlalu mengadakan pujian kosong terhadap diriku yang bodoh."

Mereka tertawa-tawa gembira dan duduk kembali. Pengaruh arak telah membuat keduanya bicara makin bebas dan gembira, diseling tawa dan senyum serta lirikan mata yang mulai memancarkan dendam birahi.

"Yap-te, siapakah yang belum mendengar tentang kehebatan dan kebesaran Siauw-lim-pai? Ilmu silat dari Siauw-lim-pai adalah warisan langsung dari Tat Mo Couwsu, terkenal sebagai rajanya ilmu silat. Sudah lama aku mendengar akan kebesaran Siauw-lim-pai dan semenjak kecil, aku sudah bermimpi-mimpi ingin sekali mendapat kesempatan mengunjungi dan melihat-lihat keadaan dalam kelenteng yang menjadi pusat Siauw-lim-pai!"

"Ah, aku akan merasa bangga dan bahagia sekali andaikata dapat mengantar Lu-cici melihat-lihat kesana! Sayang, sungguh menyesal hatiku bahwa hal itu tak mungkin karena ada larangan keras wanita memasuki ruangan dalam perguruan kami. Maaf, Lu-cici."

Lu Sian menarik napas panjang.

"Sayang sekali, Yap-te. Akan tetapi kalau kau mau menceritakan tentang keadaan sebelah dalam, aku pun bisa membayangkan dan bukankah itu sama dengan mellihat sendiri? Aku bisa melihat-lihat dengan meminjam sepasang matamu yang awas."

Lu Sian tertawa dan pemuda itu pun tertawa. Maka sambil makan minum berceritalah Yap Kwan Bi tentang keadaan sebelah dalam kuil Siauw-lim-si yang luas, tentang patung-patung besar, tentang ruangan-ruangan latihan, ruangan ujian dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Lu Sian, pemuda ini bercerita tentang kamar kitab.

"Kamar kitab ini merupakan satu di antara kamar-kamar yang tidak boleh dimasuki murid, kecuali kalau masuk bersama Suhu, Susiok (Paman Guru) atau mendapat perkenan langsung dari Sukong (Kakek Guru) ketua Siauw-lim-pai sendiri."

"Kau sebagai murid terkasih tentu pernah masuk, bukan, Adik yang gagah?"

Yap Kwan Bi mengangguk.

"Sudah belasan kali ketika Suhu menyuruh aku memperdalam Ilmu I-kin-keng untuk membersihkan dan memperkuat otot-otot dalam tubuh dan tentang ilmu samadhi melatih napas."

"Wah, kalau begitu lengkap sekali perpustakaan Siauw-lim-pai! Ah, betapa inginku menjenguk kesana sebentar. Adikku yang baik, tidak dapatkah kau mengantar Cicimu ini masuk sebentar saja kesana?"

Pemuda itu bergidik.

"Mana bisa, Lu-cici? Percayalah, kalau ketempat lain, biar mempertaruhkan nyawa, akan kuantarkan. Akan tetapi keruangan dalam Siauw-lim-si? Ah, hukumannya berat, hukuman mati. Dan sama sekali tidak boleh dibuat main-main di sana. Para Suhu amat keras dan lihai."

Lu Sian menghela napas penuh kecewa, akan tetapi dalam benaknya telah tergambar keadaan sebelah dalam ruangan Siauw-lim-si seperti yang diceritakan Yap Kwan Bi tadi.

"Berapa banyakkah kita-kitab didalam kamar kitab itu?"

Ia terus menghujani Kwan Bi dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga beberapa saat kemudian Lu Sian sudah tahu betul akan letak dan rahasia kamar ini, betapa kitab tentang samadhi berada di rak terbawah, kemudian Ilmu Silat Lo-han-kun di rak kedua sebelah kiri, ilmu ini di rak itu, ilmu tentang itu di rak ini. Akan tetapi yang menarik perhatian Lu Sian adalah kitab tentang ilmu menotok jalan darah dari Siauw-lim-pai, yang bernama Im-yang-tiam-hoat. Ilmu ini pernah ia dengar dari ayahnya yang menyatakan bahwa ilmu menotok jalan darah Siauw-lim-pai ini adalah paling hebat, paling kuat dan merupakan dasar pelajaran segala macam ilmu menotok jalan darah. Maka ketika ia bertanya kepada Kwan Bi dan mendengar bahwa kitab Im-yang-tiam-hoat itu berada di rak paling atas di ujung kiri, hatinya berdebar.

"Yap-te, aku merasa girang sekali bertemu denganmu dan dapat menjadi sahabat. Kau menyenangkan sekali!"

"Ah, Lu-cici, kaulah yang luar biasa. Kau baik sekali kepadaku dan... aku berhutang budi kepadamu. Entah bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu ini, Lu-cici."

Keadaan pemuda itu sudah mulai mabok. Tidak biasa ia minum arak sampai banyak, akan tetapi menghadapi seorang wanita cantik jelita seperti Lu Sian, ia menjadi lupa diri dan minum terus setiap kali Si Jelita mengisi cawan araknya.

Lenyaplah kekakuan sikap Yap Kwan Bi dan ketika Lu Sian mengulur tangan kirinya diatas meja, dekat dengan tangan kanannya, jari-jarinya merayap mendekati dan menyentuh kulit tangan halus lunak itu. Biarpun bersentuhan hanyalah ujung jari pada punggung tangan, namun seakan-akan ada aliran listrik memasuki tubuh melalui tempat persentuhan sebagai pusat pembangkit tenaga, langsung menyerang jantung yang menjadi berdebar-debar keras. Karena tidak ada reaksi apa-apa dari pihak Lu Sian, tangan pemuda itu makin berani dan dilain saat sepuluh buah jari tangan mereka sudah saling cengkeram!

"Lu-cici... alangkah janggalnya aku menyebutmu Cici. Kau... kau begini cantik jelita dan tentu lebih muda daripadaku. Kau paling banyak delapan belas tahun..."

Pemuda itu berkata agak sukar karena cengkeraman jari tangan itu membuat napasnya sesak dan kepalanya berpusing! Lu Sian tersenyum manis dan perlahan-lahan melepaskan jari-jari tangannya, lalu menarik kembali lengannya. Kedua pipinya merah dan kedua matanya terselaput air, bibirnya tersenyum-senyum aneh dan matanya memandang pemuda itu setengah terpejam. Sejenak ia menahan napas untuk menekan desakan nafsu yang menggelora. Dia wanita lemah, mudah dibakar nafsu, akan tetapi dia pun kuat menguasai nafsu yang datang membakar.

"Yap-te, aku memang lebih tua daripadamu."

"Ah, kau ini seperti Bibi Guruku saja, Lu-cici. Dia sudah berusia lima puluh tahun, akan tetapi semua orang tentu tidak percaya karena ia kelihatan masih muda. Ah, agaknya biarpun Bibi Guru tidak mewarisi kelihaian ilmu silat Siauw-lim-pai, namun ia telah mewarisi Ilmu I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Suci Sumsum) dengan sempurna sehingga ia dapat mengalahkan usia tua dan menjadi tetap muda!"

Serentak perhatian Lu Sian terbangkit.

"Siapakah Bibi Gurumu yang hebat itu? Apakah aku bisa berkenalan dengannya?"

"Tentu saja bisa, Lu-cici. Dia dahulu bernama Su Pek Hong, kini menjadi pendeta wanita disebut Su-nikouw, menjadi ketua kuil wanita di sebelah barat kota. Kau ingin bertemu dengannya, Cici? Mari kuantar!"

"Ah, kau baik sekali! Akan tetapi, aku akan mandi dulu...."

"Mandi? Air persediaan dirumah penginapan ini hanya sedikit, itupun tidak terlalu bersih, Lu-cici. Di sebelah barat, tidak jauh dari kuil Kwan-im-bio tempat tinggal bibi guru Su-nikouw, terdapat telaga kecil disebuah hutan. Airnya jernih sekali dan aku sendiri selalu mandi disana."

Lu Sian serentak bangkit berdiri, wajahnya berseri.

"Kalau begitu menanti apa lagi? Mari kita ke sana, mandi lalu mengunjungi bibi gurumu Su-nikouw!"

Setelah membereskan perhitungan makanan, mereka berdua keluar dari rumah penginapan. Malam telah tiba ketika mereka berada di luar rumah penginapan. Yap Kwan Bi yang mengenal jalan, tanpa ragu-ragu lagi menggandeng tangan Lu Sian, diajak berjalan cepat melalui lorong-lorong gelap. Mereka setengah berlari menuju ke sebelah barat kota, bahkan setelah keluar dari pintu gerbang sebelah barat, mereka berlari cepat sambil tertawa-tawa seperti dua orang kanak-kanak bergembira. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah hutan yang sunyi dan gelap karena sinar bulan tertutup daun-daun pohon. Setelah makin dekat dengan telaga kecil yang berada di tengah hutan, jalan yang merekal lalui licin.

"Hati-hati, jalannya licin..."

Baru saja Kwan Bi berkata demikian, Lu Sian terpeleset dan tentu jatuh kalau Kwan Bi tidak cepat memeluknya.

"Eh, hampir jatuh aku..."

Post a Comment