Halo!

Suling Emas Chapter 103

Memuat...

Ia bertanya gagap, suaranya juga gemetar karena jantungnya berdebar keras. Kalau wanita ini bukan Ang-siauw-hwa, dan hal ini sudah pasti, ia tidak pernah mengenalnya mengapa wanita itu memanggilnya Kwee-koko dengan suara begitu mesra? Wanita itu menunduk dan air matanya terjatuh ke bawah, lalu ia memandang lagi sambil berkata halus,

"Kwee-koko, aku adalah Gin Lin..."

"Ah...!"

Kim-mo Taisu menepuk dahinya.

"Engkau saudara kembar Ang... eh, Khu Kim Lin...?"

Ia cepat menahan sebutan Ang-siauw-hwa, karena nama julukan Ang-siau-hwa (Bunga Kecil Merah) adalah nama Kim Lin sebagai seorang pelacur. Wanita itu mengangguk.

"Betul, mendiang Ang-siau-hwa adalah saudara kembarku."

"Apa...? Engkau sudah tahu bahwa dia... eh, dia... bernama Ang-siauw-hwa dan sudah meninggal dunia?"

"Aku tahu karena engkau sendiri yang menceritakan kepadaku..."

"Hehh...??"

Kim-mo Taisu memandang tajam, keningnya berkerut, apalagi melihat wanita itu menyembunyikan senyum manis, senyum membayangkan kegelian hati. Aneh, pikirnya. Jangan-jangan saudara kembar Ang-siauw-hwa ini seorang yang tidak beres otaknya. Tadi menangis sekarang tersenyum, dan menyebut dia kanda Kwee,

"Nona, maaf. Mengapa menyebutku Kwee-koko? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku she Kwee? Naik sedu-sedan dari dada wanita itu ketika ia menarik napas panjang.

"Kwee-koko, apakah kau tidak mengenal suaraku?"

"Suaramu seperti... seperti suara Ang-siauw-hwa..."

"Ah, alangkah bodohnya kadang-kadang lelaki yang paling pintar didunia ini! Agaknya tanpa bukti kau takkan mengerti selamanya. Kwee-koko, kau kenalilah aku?"

Wanita itu dengan gerakan cepat mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, menutupi muka dengan benda itu dan ketika ia menurunkan kedua tangannya, Kim-mo Taisu melompat kebelakang sampai dua meter lebih, berdiri terbelalak dengan muka pucat. Ternyata bahwa nenek penghuni Neraka Bumi yang kini berdiri didepannya!

"Kau...? Kau....?"

Ia berkata, suara menggigil dan kakinya melangkah maju. Gin Lin melepas kedoknya dan melemparnya jauh-jauh.

"Kwee-koko, apakah kau sekarang mengenalku?"

Katanya sambil mengembangkan kedua lengannya.

"Ah, Kwee-koko, betapa rinduku kepadamu...!"

Kim-mo Taisu berdongak dan tertawa bergelak-gelak,

"Kau rindu....? Ah, dan aku..., aku... ah, sampai gila aku memikirkan kau....!"

Bagaikan didorong tenaga mujijat, keduanya saling tubruk dan saling peluk, berdekapan mesra. Gin Lin menangis terisak-isak sedangkan Kim-mo Taisu masih tertawa-tawa akan tetapi kedua matanya bercucuran air mata ketika mereka berpelukan dan berciuman. Kemudian kim-mo Taisu mengangkat tubuh Gin Lin dan ia menari-nari sambil berputar-putar memondong tubuh "nenek"

Itu.

"Ha-ha-ha-ha! Dan aku menjadi seperti gila menyesali perbuatanku!"

Gin Lin mengusap-ngusap rambut yang terurai itu.

"Kwee-koko, kenapa kau sampai menjadi begini?"

"Apa seperti jembel ini? Ha-ha-ha, agar tepat dengan keadaanmu sebagai seorang nenek-nenek keriputan. Hanya seorang jembel gila yang begitu buta beristerikan seorang nenek. Kau isteriku, ha-ha-ha! Engkau isteriku tercinta!"

Gin Lin memeluk dan mendekap kepala suaminya dengan terharu sambil menangis sedangkan suaminya masih memondongnya dan berjingkrak-jingkrak kegirangan, juga dengan pipi basah air mata. Mereka lupa diri, lupa segala sehingga tidak ingat bahwa anak perempuan tadi memandang mereka dengan bengong, dan anak itu menangis pula menyaksikan mereka mengucurkan air mata.

"Ibu... Ibu....!"

Anak itu memanggil. Kim-mo Taisu tersentak kaget seperti terpukul dadanya. Ia menurunkan Gin Lin dan terhuyung-huyung mundur dengan wajah pucat.

"Kau.. kau... sudah menjadi isteri orang lain...?"

Gin Lin tersenyum dengan air mata masih bercucuran, lalu menggandeng tangan anak itu.

"Eng Eng, dia ini ayahmu, Nak. Kwee-koko, setelah kau pergi, aku... aku melahirkan anak ini. Hanya karena dialah maka aku merobah tekadku untuk mati di Neraka Bumi, aku membawanya keluar mencarimu. Dia ini anakmu, Kwee-koko."

Terdengar rintihan isak di tenggorokkan Kim-mo Taisu. Ia berlutut, memegang kedua tangan anaknya, memandang wajah yang mungil itu, kemudian ia memondongnya sambil tertawa. Tangan kirinya juga menyambar dan memondong tubuh isterinya. Berganti-ganti ia memandang dan menciumi isteri dan anaknya dengan kebahagiaan hati yang sukar dilukiskan. Ia merasa seakan-akan menerima anugerah yang paling besar dan belum pernah selama hidupnya ia mengalami kebahagiaan seperti saat ini.

"Isteriku....! Anakku...! Ah, Kwee seng... Kwee Seng.. agaknya Thian masih menaruh kasihan kepadamu...!"

Katanya, suaranya menggetar penuh keharuan.

"Ayah... sudah lama sekali aku mencari-carimu. Ibu seringkali menangis, katanya kau tidak mau menjadi Ayah Eng Eng. Sekarang Ayah sudah disini, mengapa ibu masih menangis? Apa ayah betul-betul tidak suka kepada Eng Eng?"

Ucapan yang keluar dari bibir mungil itu seperti pisau mengiris jantung Kim-mo Taisu. Terasa olehnya betapa ia telah melakukan dosa besar terhadap Gin Lin yang selain telah menolong nyawanya di Neraka Bumi ternyata masih menaruh cinta kasih yang amat besar kepadanya. Sungguh ia telah berdosa. Andaikata Gin Lin benar-benar seorang nenek sekalipun, ia tidak semestinya meninggalkan seorang yang begitu mencintanya.

"Eng Eng. Alangkah manis namamu. Ayah amat cinta dan sayang kepadamu, anakku!"

Ia menciumi pipi anaknya.

"Tapi Ayah mengapa menangis? Ibu juga? Mengapa susah?"

"Ayah tidak susah. Lihat, sekarang aku tertawa, dan Ibumu juga!"

Anak itu memandang ayah dan ibunya, benar saja mereka tersenyum dengan air mata membasahi pipi.

"Suhu...!"

Kwee Seng memandang dan ternyata Bu Song sudah muncul disitu.

"Teecu menghaturkan selamat bahwa Suhu telah dapat berkumpul dengan Subo (Ibu Guru) dan puteri Suhu."

Kata Bu Song dengan pandang mata sejujurnya dan muka ikut bergembira. Kim-mo Taisu menurunkan tubuh isterinya perlahan. Sambil memondong Eng Eng ia menghadapi muridnya berkata,

"Bu Song, kenapa kau pergi meninggalkan aku tanpa pamit?"

Mendengar suara ayahnya seperti marah dan melihat Bu Song menundukkan kepala, Eng Eng segera menjawab ayahnya.

"Ayah, jangan marah kepadanya. Dialah yang membawa Ibu dan aku kesini menemui Ayah. Bu Song tidak nakal, dia baik, Ayah!"

"Ehh...??"

Kim-mo Taisu memandang isterinya yang tersenyum dan mengangguk, bahkan isterinya lalu memberi penjelasan.

"Muridmu ini bekerja pada kami, mengambil air dari puncak. Ketika mengangsu air untuk kali terakhir, ia melihat kau berhadapan dengan musuh jahat, maka setibanya dirumah kami ia bertemu denganku dan mengatakan bahwa gurunya Kim-mo Taisu, menghadapi bahaya maka ia harus cepat-cepat pergi dari rumah kami, tidak mau kutahan lagi. Aku memang ada dugaan bahwa Kim-mo Taisu adalah engkau, maka aku lalu mengajak Eng Eng dan bersama Bu Song pergi menyusulmu kesini. Kiranya benar-benar kau berhadapan dengan musuh yang tangguh. Baiknya ada Pamanku Couw Pa Ong yang membantumu."

"Couw Pa Ong...? Dia itu... Pamanmu...?"

"Mari kita pulang dulu, nanti kita bicara sampai jelas."

"Pulang?"

Terharu hati Kim-mo Taisu, karena sesungguhnya, entah sudah berapa lamanya ia tidak mengenal arti kata "pulang"

Lagi. Sambil menggandeng tangan isterinya dan memondong Eng Eng, Kim-mo Taisu mengangguk dan menjawab.

"Marilah!"

"Bu Song, kau ikut dengan kami."

Kata Khu Gin Lin dengan suara halus, akan tetapi BU Song masih berdiri dengan kepala menunduk.

"Bu Song, hayo ikut, nanti kita main-main dirumah!"

Eng Eng juga berkata, akan tetapi tetap saja Bu Song tidak bergerak dan tidak pula mengangkat muka. Anak itu sedang dilanda kedukaan hebat. Ia memang ikut bergirang menyaksikan kebahagiaan suhunya yang telah berkumpul kembali dengan isteri dan anaknya, akan tetapi sekaligus peristiwa ini pun mengingatkan ia akan keadaannya sendiri yang jauh ayah jauh ibu, seorang anak yang tidak dapat mengecap kebahagiaan seperti Eng Eng karena ayah bundanya cerai berai. Pula, agaknya suhunya marah kepadanya, dan kalau suhunya sendiri diam saja, bagaimana ia bisa ikut mereka? Melihat Bu Song diam saja tidak menjawab, Eng Eng lalu melorot turun dari pondongan ayahnya, lari menghampiri Bu Song dan menarik tangannya.

"Hayo, kau ikut! Eh, kau... kau menangis? Kenapa?"

Mendengar ini, kagetlah Kim-mo Taisu. Ia sudah mengenal betul perangai Bu Song, seorang anak yang amat keras hatinya, yang tidak pernah sudi menangis, tabah dan berani luar biasa. Kalau sekarang menangis, benar-benar aneh! Tadinya, perjumpaannya dengan anak isterinya membuat Kim-mo Taisu sejenak melupakan Bu Song, apalagi karena muridnya itu telah meninggalkannya tanpa pamit. Ia menganggap muridnya sudah tidak suka lagi ikut dengannya, maka ia pun tadi tidak mengacuhkannya lagi. Akan tetapi sekarang mendengar bahwa muridnya menangis, ia segera membalikkan tubuh menghampiri Bu Song.

"Bu Song, kau lihat aku!"

Bu Song mengangkat mukanya. Anak ini menggigit bibir menahan air mata dan memandang suhunya dengan mata tajam.

"Ketika aku bicara dengan Beng-kauwcu, kenapa kau lalu pergi meninggalkan aku tanpa pamit? Apakah kau sudah bosan ikut gurumu?"

Bu Song menggeleng kepalanya.

"Teecu tidak bosan, akan tetapi teecu tidak mau bertemu dengan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan."

"Hehh...?? Kau tahu nama Beng-kauwcu? Mengapa kau tidak mau bertemu dengannya?"

Kim-mo Taisu benar-benar tertarik dan merasa heran.

"Karena... karena... dia adalah Kong-kong (kakek) teecu..."

"Apa kau bilang??"

Kim-mo Taisu melangkah maju mendekati muridnya lalu berjongkok agar dapat memandang wajah muridnya, baik-baik.

"Dia itu Kakekmu? Bu Song, katakanlah siapa nama ayahmu?"

"Ayah teecu Kam Si Ek, akan tetapi teecu tidak mau pulang..., juga teecu tidak mau ikut Kong-kong, teecu hendak mencari ibu..."

Jantung Kim-mo Taisu bedebar-debar keras, lalu ia memeluk Bu Song.

"Ah, mengapa ada peristiwa begini kebetulan? Bu Song... jadi kau anak Lu Sian dan Kam Si Ek...?"

Bu Song meronta dari pelukan suhunya, memandang dengan mata tebelalak.

"Suhu mengenal Ayah dan Ibu?"

"Anak baik, tentu saja aku mengenal mereka!"

"Kalau begitu maaf, teecu tidak dapat ikut Suhu lagi."

Post a Comment